Legendaris Poker Dunia : Stu Ungar

Dalam poker hall of fame, ada seorang pemain yang ketrampilan dan kenekatannya begitu dikenal, demikian pula dengan gaya
hidupnya yang rock n’roll. Ia adalah Stu Ungar yang kini sudah almarhum. Namm legenda pemain poker terbaik di dunia ini terus hidup.
            Poker bukanlah jenis “olahraga” yang sehat. Tidak ada udara segar dan latihan fisik, yang ada malah minuman keras, tembakau dan obat-obat terlarang. Pemainnya melek sampai tiga hari berturut-turut, tidak makan kecuali istri, pacar atau cewek-cewek fans mereka membawakan sandwich. Sebagaimana dalam permainan lainnya, poker juga melahirkan berbagai personaliti yang unik dan menonjol. Kalau anda bertanya ke para pemain poker profesional, siapakah pemain poker terhebat sepanjang masa, mereka akan menjawab : Stu Ungar.
            The Kid – julukan diawal karirnya – pertama kali muncul di sebuah klub kecil di
kota
manhattan,
new york
. Pemilik klub, seorang mantan napi bernama Victor Romano, berkeliling ke meja-meja permainan untuk mengusir anak-anak di bawah umur. Ketika melihat Stu, ia malah sangat terkesan dengan keahliannya dan mengamatinya lebih lanjut. Meski sudah memiliki sejumlah klub yang sukses, Romano tetaplah berjiwa petaruh dan remaja kurus yang tampak di hadapannya sangatlah menjanjikan bagi proyek barunya.
Lahirnya Sang Legenda
Ketertarikan Romano pada Ungar bukanlah sekadar masalah uang. Ia mengenal ayah Ungar, Ido, yang beberapa waktu sebelumnya meninggal akibat serangan jantung ketika sedang berasyik-masyuk dengan selingkuhannya dikamar hotel. Kematiannya yang memalukan ini menyebabkan kedua anaknya dia asuh oleh istrinya, seorang pecandu obat-obatan yang tidak bertanggung jawab. Maka anak muda keturunan Yahudi bertubuh mungil itu kemudian mencari sosok pengayom yang meskipun berbahaya, bisa mengangkatnya dari kelas pemain kartu jalanan menjadi poker sukses. “dibeberapa tempat dimana saya main kartu, kalau bukan karena Victor saya ngak akan mungkin keluar hidup-hidup,” kata Ungar dalam memoarnya yang belum seleasi.
            Meski begitu, Victor tak mampu memperbaiki kelakuan Ungar yang brengsek di meja permainan. Sikap kurang sportifnya kalau kalah dan kearoganannya hika menang menyebabkan lawan-lawannya sering kehilangan kesabaran. Suatu malam, salah seorang lawannya naik pitam dan melemparkan kursingya ke Ungar, menyebabkan ia cedera pada bahunya. Romano menarik pria itu dan menyuruhnya untuk bersalaman. “Menyalami si Bangsat ini?” kata si pria sambil mengulurkan tangan dengan terpaksa. Dua hari kemudian, ia ditemukan sudah jadi mayat di sebuah gang dengan luka tembak.
            Salah seorang lawan lainnya lebih beruntung. Suatu ketika, Romano memergoki lawan main Ungar mengintip kartu terbawah dari tumpukan saat membagikan kartunya dan mengangkat dua kartu, bukannya satu ketika mencangkul kartu. Romano membisikkan Ungar bahwa ia sedang di curangi. Ungar berkata, “ya, saya tahu”. Tapi saya akan tetap mengalahkannya. “ia pun menang dan mengantongi US$16 ribu.
Sembrono
Walaupun Ungar dikenal sebagai pencandu kokain parah, di masa-masa awal karirnya ia terbilang bersih. Hal ini tampaknya bukan disebabkan sikap Ungar  yang disiplin, namum lebih karena faktor Romano yang pernah mengumumkan bahwa ia akan membunuh siapa saja yang membahayakan anak didiknya itu. Jelas saja para bandar narkoba menjauhinya.
            Namum Romano tak dapat mencegah Ungar terlibat dalam taruhan-taruhan bodoh yang menghancurkan masa depannya. Beberapa bulan sebelum ulang tahunnya yang ke-17, ungar menang US$ 20 ribu disebuah tempat lotere lokal. Ia kemudian pergi ke klub blackjack dan pemilik klub ini mendengar kemenangan besar Ungar sebelumnya. Ia pun mempersilahkan Ungar main dengan taruhan kredit. Ketika orang dari tempat lotere datang mengantarkan uang kemenangannya, Ungar sudah mengalami kekalahan besar.
            Kesembronoan Ungar dalam hal finansial menyebabkan namanya sangat dikenal para rentenir di
Manhattan
. Romano kerap melindungi Ungar dari para Debt collector keji. “Stu bukan orang jahat,” tegas Romano, “dia hanya sedikit kacau”
            Sewaktu berusia 18 tahun, ia kalah US$ 14 ribu yang merupakan uang warisan ayahnya hanya dalam waktu dua hari di suatu pacuan kuda. “ya, saya menghabiskan uang ayah saya. Lalu kenapa? Komentarnya ketika di tegur oleh Romano.
            Namum demikian, Ungar masih merupakan tambang emas bagi Romano. Itu sebabnya ia membayar suap agar Ungar tidak dipanggil wajib militer dan mereka bisa terus berjuang di
medan
pertempuran yang lebih hijau. Ketika reputasi Ungar sudah tersebar kemana-mana, semakin sulit bagi mereka mencari lawan main. Maka Romano membawa Ungar ke
Florida
untuk bermain dengan para pensiunan kaya raya. Ungar tidak menyukai kegiatan ini, maka tak lama kemudian mereka pergi ketempat utama para penjudi sejati,
Las Vegas
.
            Ungar langsung sukses besar di
sana
. Penampilannya yang polos dan kekanak-kanakan, ditambah sikat arogan dan keahliannya, membuat ia selalu menarik perhatian pengunjung. Namum tak lama kemudian, Ungar pun mengincar sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar berjudi kecil-kecilan.
Raja Baru
Malam Kejuaraan Dunia Poker yang berlangsung di Binion’s Horsehoe merupakan suatu event terkemuka bagi para pencinta poker. Biaya pendaftaran sebesar US$ 10 ribu tidak menghentikan antusiasme peserta. Yang menjadi daya tarik turnamen poker ini adalah dimainkannya varian Texas Hold ‘Em. Mempelajarinya hanya memerlukan waktu satu menit namum untuk menguasainya membutuhkan waktu seumur hidup. Disini, para pemula memiliki kesempatan yang tidak bisa di temui para pemula dalam bidang permainan lainnya. misalnya, seorang pecatur amatir tidak mungkin bisa mengalahkan Garry Kasparov, namum beda dengan poker. Kalau kartunya bagus, seorang pemain poker yang masih hijau bisa saja bertaruh dengan pemain profesional paling hebat di dunia dan membawa pulang uang kemenangannya.
            Ketika Ungar memasuki ruangan poker pada tanggal 19 mei 1980, kebanyakan para pemain memandangnya karena sekadar ingin tahu berdasarkan reputasinya. Di usianya yang 26 tahun, ia menjadi pemain termuda dalam turnamen tersebut, namum begitu ia mengambil tempat bersama dengan 72 pemain lainnya memperebutkan uang US$ 365 ribu yang merupakan hadiah utamanya, ia segera mempertunjukkan permainannya yang agresif. Dengan cepat Stu menggandakan taruhan, meningkatkan nilai chip-nya dari US$10 ribu menjadi US$ 20 ribu. Yang juga menjadi kisah melegenda di kalangan pemain no-limit adalah betapa ganasnya Ungar bermain. Sebagaimana digambarkan oleh salah seorang pemain bernama Amarillo Slim, “bagi Stu, uang seperti tidak ada nilai sebagaimana yang tertera di kertasnya. Itu yang menjadikan dia pemain hebat. Ia tidak takut kehilangan semua chipnya, ia tidak ragu mempertaruhkan semua meskipun tidak memegang kartu yang bagus.”
            Walaupun poker mengandalkan unsur-unsur keberuntungan dalam jangka pendek, keahlian sangat berperan dalam jangka panjang. Maka, para jagoan poker merasa takjub ketika pemuda kurus dari
New York
itu masuk ke putaran final. Salah seorang pemain senior asal
Texas
, Doyle Brunson memperhatikan permainan Ungar yang meningkat selama turnamen berlangsung.”ia menggunakan World Series dan kami semua di sini sebagai latihannya,” ujarnya. Satu persatu lawan Ungar menjadi korban permainannya yang agresif dan pernuh gertakan. Akhirnya tinggallah duel satu lawan satu antara Ungar dan Brunson. Di masa rehat, Ungar menawarkan taruhan kepada Brunson sebesar US$ 50ribu bahwa ia akan menang. Brunson menerima tantangan dan mengklaim ia yang akan memenangi duel ini. Brunson memang favorit juara dengan perbandingan 6/5. tak sampai satu jam kemudian, Brunson mempertaruhkan semua uang US$274 ribu yang akhirnya melayang ke tangan Ungar sebagai pemenangnya.
Para
reporter segera mengerumuni sang juara dan salah seorang bertanya kepadanya apa yang akan dilakukannya dengan semua uang itu. Ungar berpikir sejenak dan berkata, “saya akan mempertaruhkannya.”
            Romano kemudian berkata kepadanya, “kalau kamu serius, kamu bisa jadi jutawan.”mereka kemudian pergi merayakan kemenangan, makan-makan dan minum-minum sepanjang malam.
            Madeline, tunangan Ungar sejak lama merasa takjub melihat bagaimana ia akhirnya bisa duduk diam sambil mengunyah makanannya sepanjang malam. Enam jam kemudian, Romano terkena serangan jantung dan meninggal dunia.
            Ungar sangat terpukul dengan kematian Romano, lebih dari ketik orangtuanya sendiri meninggal. Tapi tak lama waktu ia berduka, ia segera berjudi kembali. Semakin besar ia menang poker, semakin gila ia bertaruh untuk pertandingan olahraga. Ia sering dengan entengnya mempertaruhkan puluhan ribu dolar untuk pertandingan tinju.
            Jim Albrecht, penyelenggara World Series sampai tahun 2003 berkomentar tentang Ungar. “saya tidak pernah melihat bakat yang begitu besar dan kehidupan yang begitu terganggu. Didalam diri Ungar terdapat keduanya,” katanya.
            Sebagai buktinya, lihat saja kejadian di kejuaraan Seri Dunia di tahun 1981 dimana Ungar juara lagi tapi langsung bangkrut dua hari kemudian.
Bintang jatuh
Satu juga dikenal sebagai seseorang yang kurang santun. Ia menyebut semua bandar kartu “motherfuckers”. Itu belum seberapa. Stu pernah dua kali menunda upacara pernikahan dengan tunangannya yang hamil untuk bermain poker. Setelah mereka akhirnya menikah, Stu seringkali memberi istrinya uang dan menyuruhnya untuk membeli sendiri hadiah ulangtahunnya. Baginya, sopan santun adalah sekadar tugas belaka dan ia juga berpendapat sama  soal aktivitas manusia sehari-hari, seperti makan atau mandi. Ia tidak tahu cara menyalahkan kompor. Ia tidak pernah keramas sendiri melainkan selalu keramas di barber kasino beberapa kali dalam seminggu.
            Kalau ia merasa tiga langkah lebih maju dari oarng lain di meja poker, maka dalam kehidupan sehari-hari ia selalu merasa harus paling dua langkah di depan. Kekasaran dan ketidaksabaran seringkali ia tunjukkan dalam aktivitasnya sehari-hari. Ia suka menelepon restoran untuk meminta mereka menyiapkan makanan pesanannya terlebih dahulu sehingga bila ia sampai disana, makanannya sudah siap. Bahkan di tempat tidur pun Stu masih tetap tidak sabaran.
            “bagi saya, kalau bergairah tinggal merobek baju ceweknya dan langsung tuntaskan,”katanya suatu kali. Setiap kali ia kencan dengan pelacur, ia selalu meminta salah seorang temannya untuk meneleponnya 20 menit kemudian agar ia punya alasan untuk pergi.
            Maka tidaklah mengherankan kalau sepanjang hidupnya ia telah enam kali membiayai para wanitanya untuk aborsi. Bagi Ungar, membayar itu merupakan suatu kegiatan basa basi seperti kalau kita membayar tip pelayan atau menyuap polisi lalu lintas. Dan ia memiliki keahlian tersendiri untuk mengetahu apakah si cewek berbohong atau tidak soal bayinya. Kepada teman-temannya, Stu menyombong bahwa kemampuan itu didapat dari pengalamannya main poker. Meski begitu, ia selalu memberi uang kepada para wanitanya itu.
            Kebiasaan menghirup serbuk kokain dalam jumlah besar secara perlahan tapi pasti merusak tulang rawan peyekat kedua lubang hidungnya. Salah satu lubang hidungnya hancur dan berbentuk seperti buah busuk. Stu pun terpaksa berhenti menghirup kokain, namum ia beralih merokok crack. Kasino Four Queens yang legendaris hanya berjarak 10 menit jalan kaki menuju sebuah hotel murahan di Sixth Street yang buka 24jam, menyediakan segala keperluan para pencandu narkoba. Tahun 1990-an merupakan masa-masa kegelapan sang juara Poker.

Akhir Pahit
Ketika kejuaraan Dunia Poker kembali bergulir di tahun 1997, Ungar sudah dianggap sisa-sisa masa lalu, bangkrut dan seorang junkie. Kebiasaan buruknya itu menghabiskan US$1200 setiap minggu dan ia mempunyai tagihan yang besar sekali. Ia sering berbohong kepada para penjaminnya, mengatakan bahwa ia perlu uang untuk main kartu padahal untuk narkoba. Tak jarang mereka memaksa Ungar untuk menjalani test urine sebelum mereka memberinya uang untuk ikut turnamen. Bahkan beberapa kali mereka ikut duduk di belakang Ungar selama turnamen berlangsung dan mengikuti kalau ia ke toilet, khawatir ia akan menyedot kokain disana. Tapi, kali ini, di hari pertama turnamen, tidak ada bantuan dana tersedia bagi Ungar. Juara dunia dua kali ini terpaksa hanya menjadi penonton. Salah seorang penjaminnya menolak memberinya uang adalah Billy Baxter, yang merugi ketika meminjamkannya uang untuk mengikuti turnamen pada tahun 1990, namum dua hari terakhir pertandingan, Stu tidak muncul karena sedang overdosis.
            Namum beberapa jam sebelum turnamen di mulai, Baxter berubah pikiran dan setuju meminjamkan uang pendaftaran 10 ribu dolar dengan jaminan ia mendapat setengah hasil kemenangan Ungar. Penampilan Stu pada saat itu sudah tampak kacau-seperti orang teler dan giginya ompong. Namum ternyata ia masih bermain kesetanan. Di akhir turnamen, Ungar juara dan menggondol 1,8 juta dolar. Jumlah ini merupakan yang terbesar dalam sejarah bagi seseorang yang comeback di World Series. Ungar juga mencatatkan diri sebagai satu-satunya pemain yang berhasil menjuarai turnamen tiga kali.
            Namum seperti biasa, dua hari kemudian Stu kembali bangkrut. Ia menantang jutawan Yunani, Archie Karras bermain poker dengan batas tertinggi yang pernah dimainkan. Jim Albrecht yang menemani Stu mengatakan, “meskipun kamu pikir memiliki keuntungan, main dengna limit US$ 5 ribu dan US$ 10 ribu itu bagaikan main
Russia
Roulette. Resikonya terlalu besar. Kalau saya memegang pistol berisi 2 peluru dan saya memberikan kamu pistol dengan satu peluru, kemungkinan kamu hidup memang lebih besar dibandingkan saya. Tapi apakah kamu tetap mau main? Itu tetap saja bunuh diri.”
            Dalam waktu enam jam, Ungar kalah US$900ribu oleh Karras dan pada titik ini penjaminnya menyetop dana. Kalah sampai hampir 1 juta dolar tak hanya menghancurkan ego dan keuangannya. Ia juga kehilangan para penjaminnya.
            Satu tahun kemudian, Ungar ditemukan tewas oleh pegawai hotel dikamarnya dengan muka terlungkup ditempat tidur. Di dalam darahnya ditemukan berbagai kadar obat-obatan, tapi yang mencabut nyawanya adalah serangan jantung sebagai akibat kebiasaan buruknya selama bertahun-tahun yang mencapai puncaknya. Teman-temannya berharap ini merupakan suatu happy ending bagi Ungar. Pada hari pemakamannya, para pemain poker terbaik dunia hadir mengenakan pakaian serba hitam dan sumbangan mereka dipakai guna membayar biaya pemakaman.
            Sepanjang 30 tahun karir pokernya, uang senilai US$30juta telah mampir ketangan Stu Ungar. Di masa kini, pemain poker profesional mempunyai tim PR dan manajemen tersendiri. Mereka menggangap profesi ini sama seperti para olahragawan lainnya yang disiplin dan bertanggung jawab. Noah Boaken, pemain poker berusia 24 tahun dari Belanda yang memenangi turnamen European Poker Tour tahun 2005 mengatakan kepada FHM, “saya tidak suka berjudi.
Para
penjudi adalah orang-orang kaya yang sembrono, orang-orang yang bangkrut dan putus asa, atau sekadar pencandu aksi. Stuey adalah penjudi. Sekarang, kami adalah pemain poker.”
Kecipratan Rezeki
~ para staff kasino Hard Rock di
Las Vegas
berpesta gila-gilaan suatu kali setelah pada tahun 2002 Ben Affleck menang US$ 140 ribu dan memberikan semuanya ke mereka.
~ ketika jutawan media asal Australia Kerry Packer dilayani oleh waitress seksi di Caesar’s Place, ia mengajak ngobrol si waitress dan ia diberitahu bahwa waitress itu baru saja membeli rumah pertamanya. Beberapa menit kemudian Packer bertanya berapa jumlah cicilan rumahnya kemudian memberikan chip kemenangannya dan menyuruh si waitress untuk melunasi rumah nya esok hari.
~ tahun 1997, gembong narkoba Jimmy Chagra memberi tip kepada bandar yang melayaninya di Caesar’s Palace sebesar US$ 600 ribu. Tidak mengherankan bila pekerjaan sebagai bandar begitu sulit diperoleh di sejumlah kasino ternama di Vegas. Biasanya pekerjaan tersebut diteruskan turun temurun ke keluarganya atau teman-teman pegawai kasino itu sendiri.
Stuey Vs Mafia
Salah satu peristiwa gila yang dialami oleh si pemain poker tersinting yang pernah ada…
Musim panas 1978, Stu Ungar merasa ketakutan. Ia memang sering bermasalah dalam hal pembayaran utang, namum kali ini ia benar-benar khawatir dengan pinjaman sebesar US$ 65 ribu kepada seorang mafia sangar bernama Tieri. Pada bulan Juli, Stu merasa yakin bahwa ia akan berakhir sebagai mayat di suatu gang kalau ia tetap berada di
New York
, maka ia kabur ke LA. Ia sempet hidup baik-baik disana, namum lama-kelamaan ia tak tahan untuk mencoba peruntungan di
Las Vegas
.
Tak lama kemudian, ia menang 50 ribu dolar di Vegas dan kabar kemenangan ini didengar Tieri. Namum Ungar langsung menghilang lagi sebelum utusan mafia mendatanginya.
Tapi Tieri kini semakin mudah mengawasi Ungar. Ia yakin Stu tidak akan bisa menjauh dari Vegas terlalu lama. Benar juga, tak lama kemudian Stu kembali muncul di Vegas untuk mengikuti suatu turnamen di kasino
Riviera
. Ketika Ungar sedang menuju toilet, dua pria kekar mengikutinya-salah satunya dikenal sebagai Tony “The Ant” Spilotro, salah satu pembunuh bayaran terkenal di Vegas. “The Ant” pernah menjepit kepala seorang pengutang kesebuah mesin press sampai kedua mata korban keluar dari tempatnya.
Spilotro mengancamnya dan menagih utang US$ 65 ribu tersebut. Stu mengiba-iba dan mengatakan bahwa semua uangnya sudah dipertaruhkan di meja poker. “kalau begitu kamu harus menang,” ancam Spilotro. Sambil gemetaran, Stu kembali ke meja dan bermain sambil diawasi Spilotro. Stu main tidak dengan
gaya
berani sebagaimana ciri khasnya, tapi tetap berhasil menang. Ketika Stu mengambil uangnya, dua penjahat tersebut mendekati Stu dan menagihnya. “kalian nggak menyisakan saya sedikti pun?” keluh Stu sambil menyerahkan uang kepada mereka. Spilotro menghitung uangnya kemudian menatap mata Stu dengan tajam.”kamu beruntung masih bisa hidup,” kata Spilotro.

Share This Post

Recent Articles

Leave a Reply

© 2014 Mabuk Poker [dot] Com. All rights reserved. Site Admin · Entries RSS · Comments RSS
Powered by WordPress